Fiksi : Kumon

Perlahan Ia mendekati suaminya di sisi lain tempat tidur.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

“Hmmmph… Apa?” Suaminya menjawab sambil meletakan bacaannya.

“Apakah aku sudah tidak menarik lagi”

“Hah? Darimana muncul pikiran seperti itu?”

“Mmm… Dulu sewaktu rumah kita masih jauh dari kantormu, jika ada yang tertinggal dan kamu harus kembali mengambilnya di jam istirahat, kamu masih punya waktu untuk…mmm… quickie dan sempat mandi pula sebelum kembali ke kantor.”

“Terus?” Sambil beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar.

“Mengapa sekarang ketika rumah kita hanya 5 menit dari kantormu tidak sekali pun kamu makan siang di rumah sehingga kita punya waktu berdua karena anakmu di sekolah?”

Dia kembali setelah mengunci pintu kamar dan balik bertanya “Mengapa harus di jam istirahat kantor?” “Kulihat barusan anakmu tenggelam dalam pelajarannya di ruang tengah.”

Tiba-tiba tubuhnya sudah terkunci dibawah tubuh suaminya.

Belum selesai dia menjawab, “Iya, anakmu selalu begitu kalau mengerjakan kum..mmm..mon.” bibirnya sudah dilumat bibir suaminya dan tubuhnya seketika menggeletar lalu perlahan melunak akibat sensasi berikutnya dari tangan kokoh suaminya yang memijat lembut pinggangnya. Ritual berdua menjelajah semesta itu pun berlangsung penuh gairah hingga kesunyian yang mendamaikan hati tiba setelah mereka merasakan “big bang” bersamaan.

“Duk duk duk!” Suara pintu kamar digedor.

“Maaah….” Anaknya memanggil dari luar kamar tidur.

“Iya sayang, bentar, mama lagi pijitin papa, papa masuk angin.” Keduanya masih berbaring penuh keringat dan tersenyum nakal sambil saling memijat lembut tubuh pasangannya.

“Aku boleh nonton kartun ya, kumonku sudah selesai dan sudah baca-baca pelajaran buat besok juga.”

“Iya sayang, 20 menit aja ya!”

Ok, mom!”

Tidak berapa lama mereka beranjak bersamaan dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Hei, aku mau kasih tahu sewaktu androidmu tertinggal berapa hari yang lalu, sebenarnya aku yang sengaja menyembunyikannya ketika kamu sibuk bersiap ke kantor.” Ia mengaku lalu merapatkan bibirnya menahan malu.

Cengiran nakal suaminya keluar. “Kamu pikir aku meminta stafku untuk mengambilnya karena apa?”

Wajahnya penasaran.

“Karena aku tahu aku bisa terlambat mengikuti rapat jika aku yang pulang mengambilnya.”

Suaminya langsung dipeluk untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas.

“Jangan berfikir yang aneh-aneh, ok?” “Posisiku sekarang membuatku seperti lengket di kursi kantor.” “Kita bisa kumon eh quickie kapan saja kamu mau ketika memungkinkan.” Bisik suaminya jail namun menenangkannya.

Dan mereka saling menggigit bibir pasangannya dengan lembut sebelum berjingkat ke kamar mandi bersamaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s