Menyusun Lego Raksasa di Legoland Water Park, JHB

Hari kedua pagi-pagi kami mengantri di Bricks, restoran hotel untuk sarapan terlebih dahulu sebelum menjalani hari yang padat lagi. Anak-anak sudah tidak sabar bermain air sehingga menghabiskan makanannya cukup cepat.

Legoland Water Park belum dibuka dari pintu utama Legoland karena waktu saat itu belum menunjukan pukul 09:30 tapi kami diberitahu oleh seorang petugas bahwa kami bisa ke sana tanpa melalui pintu utama yaitu dari pintu langsung ke Water Park. Suasana masih lengang dan bersih ketika anak-anak mulai bermain air. Saya mengawasi mereka dari kejauhan dan siaga dengan camera karena ingin menangkap momen kebahagian mereka tanpa mereka sadari.

Namun dasar anak-anak. Meskipun sudah di-biefing sebelumnya agar sesekali melihat saya di pinggir kolam yang selalu siap mengabadikan mereka, mereka malah asyik sendiri dan bermain di area-area yang tidak bisa saya jangkau karena takut basah. Alhasil saya seperti paparazi yang berlari ke sana ke mari mengikuti mereka. Gemuruh air dan teriakan kegembiraan dari pengunjung lainnya menenggelamkan suara saya yang memanggil-manggil nama mereka mereka agar melihat camera

Setelah cukup lama di area kolam bermainnya, saya meminta bantuan seorang pool guard untuk memanggil mereka. Lalu mereka mencoba wahana lain yaitu mengitari Legoland water park melalui sungai buatan dengan terapung menggunakan ban sambil menyusun lego raksasa. Setelah itu kami pindah ke area wave pool. Setelah puas, mereka meminta izin saya untuk menggunakan berbagai sliding yang meliuk-liuk untuk meluncur ke kolam.

Ketika matahari sudah mulai tidak bersahabat dan jari-jari mereka sudah keriput, saya mengajak mereka kembali ke hotel. Syukurlah mereka patuh karena mengerti kalau kami harus kembali ke Singapura siang itu. Mereka masih sempat disko gila-gilaan ketika terakhir kali naik disco lift sebelum check out dari hotel.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Di lift hotel kembali ke kamar

Dari hotel kami naik taksi hotel berupa mobil dengan tiga row yang cukup nyaman, meskipun beda 20 RM lebih mahal dari taksi CIQ Johor Bahru yang hanya 35 RM sebelumnya tapi kami senang karena kali ini kami melewati rute yang berbeda sehingga bisa melewati istana raja dan perkampungan India yang cukup menarik di Johor Bahru.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Perhatikan roda sepeda di belakang. Itu memperbesar ratusan karakter lego yang menempel di dinding

Kami mengulangi prosedur pemeriksaan paspor yang sama dengan kemarin ketika meninggalkan negara Malaysia menuju Singapura tapi kali ini tentu saja sudah siap dengan membawa pecahan uang kecil untuk membeli tiket bis dari CIQ Johor Bahru menuju CIQ Woodland. Dari CIQ Woodland kami menggunakan bis nomer yang sama tanpa perlu membayar lagi menuju stasiun MRT Kranji.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Naik taksi hotel yang lega menuju CIQ Johor Bahru
SAMSUNG CAMERA PICTURES
Naik bis menyeberang antar dua negara

Anak-anak baru pertama kali naik MRT sehingga saya membiarkan si kakak mencoba untuk membeli tiketnya sendiri melalui mesin tiket. Kami sempat makan siang di stasiun ini tapi anak-anak kecewa karena nasi lemak pesanan mereka di food court itu berbeda rasanya dengan nasi lemak dari paket KFC kemarin yang bagi mereka, gurih dan lezat sekali.

Kami harus melewati 12 stasiun sebelum tiba di stasiun tujuan kami yaitu stasiun MRT Bugis. Lagi-lagi kebaikan seorang penumpang perempuan cantik mempermudah perjalanan kami karena bersedia menunjukan MRT mana yang dapat kami naiki sehingga tidak perlu perlu berpindah MRT lagi nantinya.

Tiba di stasiun MRT Bugis lagi-lagi kami dibantu oleh seseorang pemuda yang sampai secara khusus menemani kami naik elevator dan eskalator stasiun untuk ke pintu yang menuju jalan ke arah hotel Fragrance Bugis padahal tadinya dia sedang duduk menunggu MRT arah tujuannya. Orang-orang Singapura yang kami jumpai dari kemarin sepertinya memang memiliki kesamaan sikap dan perilaku yaitu tidak segan membantu orang yang belum dikenalnya dan tidak pelit berbagi informasi. Sungguh budaya yang baik sekali dan harus ditiru.

Begitu keluar dari salah satu pintu keluar stasiun MRT yang juga pertokoan itu, kami bertiga berjalan kaki menyusuri trotoar sambil membawa koper masing-masing menuju hotel Fragrance Bugis. Anak-anak mulai kebingungan karena sudah berjalan kaki dua blok tapi belum sampai juga dan kehausan ketika akhirnya kami menemukan mesin penjual soft drink dan membeli minuman rasa mangga dingin di sana. Minuman tersebut jadi minuman favorit kami selama di Singapura kemudian. Dari mesin minuman tersebut kami berjalan tinggal beberapa langkah lagi sebelum sampai di hotel .

Alangkah terkejutnya anak-anak setiba di hotel dan mereka lebih terkejut lagi ketika membuka pintu kamar hotel. Mereka membandingkannya dengan kamar di hotel Legoland yang tentu saja berbeda jauh. Saya harus menjelaskan secara khusus kepada mereka bahwa saya sengaja memilih hotel kecil itu karena selama di Singapura, kami akan bepergian seharian terus dan lokasi hotel bagus karena dekat dengan stasiun MRT juga mini market 24 jam. Mereka akhirnya mau mengerti namun tetap saja teriakan-teriakan lucu mereka keluar juga ketika mereka saling bertabrakan sewaktu berpapasan jalan karena sempitnya ruangan dan saling menggoda ketika menggunakan kamar mandi yang super minimalis.

Seharusnya jadwal kami malam itu adalah berjalan kaki ke Merlion Park tapi anak-anak sudah muka bantal semua setelah makan malam. Akhirnya kami putuskan untuk tidur lebih cepat malam itu agar bisa menyimpan tenaga buat ke Universal Studios keesokan harinya.

Saya masih asyik berbicara dengan ayah mereka setelah mereka “say hi” juga via video call, sewaktu saya melihat si adik memeluk kakaknya dari belakang dan keduanya tertidur pulas dari pantulan kaca di dinding kamar.

Alhamdulillah, hari ini kami lalui semua dengan baik. Mereka berdua sungguh anggota tim perjalanan yang kompak karena kami saling mendukung. Bahagia sekali mengingat si kakak inisiatif membantu saya membaca peta stasiun yang akan kami lewati ketika naik MRT dan si adik beberapa kali sempat menunjukan empatinya dengan turun dari koper besar yang saya tarik dan mendorongnya agar saya merasa lebih ringan ketika kami berjalan kaki beriringan di hari itu. Mereka berdua adalah tim impian dalam perjalanan buat saya. 😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s