Menjaga Impian

Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Tidak elok kita membandingkan ujian kita dengan ujian orang lain karena ujian bisa saja sama namun karakter, lingkungan, situasi dan kondisi seseorang tidak mungkin sama persis dengan yang lain.

Apalagi ujian yang sama bisa datang lagi kepada orang yang sama karena “dianggap” belum lulus atau bisa juga untuk peneguhan sikap.

Saya pernah mengalami ujian yang sama berulang-kali. Sekali-dua kali saya masih bisa melihat bahwa itu terjadi karena saya memang belum lulus ujian namun kemudian ujian ketiga yang sama, bisa dikatakan itu hampir menghancurkan kepribadian dan optimisme yang saya miliki.

Ditunjukan berkali-kali bahwa orang yang saya percayai tidak sebaik yang saya kira, tidak membuat saya berhenti memberinya kesempatan karena saya meyakini setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik. Benar-benarΒ berada di titik paling bawah saat itu karena saya memilih untuk menelan semua kebohongannya. Hidup saya lalui tanpa rencana dan cita-cita, semua saya serahkan pada keajaiban hari esok.

Meskipun tetap menjalani rutinitas harian dan beribadah saya tidak bisa melihat petunjuk apa pun, benar-benar hampa. Jika mengingat keadaan saya dulu, saya benar-benar bersyukur kepada Allah swt karena tidak pernah menyangka bisa melewati masa lalu yang menyedihkan tersebut dan saat ini begitu beruntung memiliki keluarga kecil yang saling mendukung dengan sepenuh hati.

Pengalaman itu membuat saya meyakini hanya Allah swt yang mampu membolak-balikkan hati seseorang. Sekuat apa pun kita berusaha jika Allah swt belum mengizinkan berhasil, ya tidak akan berhasil. Apalagi jika tidak berusaha sama sekali.

Buat saya ikhtiar dan doa itu satu paket namun saya menempatkan kekuatan doa itu lebih tinggi karena berdoa membuat kita selalu ingat kita memerlukan Allah swt untuk mewujudkan hasil dari segala ikhtiar kita.

Mungkin jika sekarang saya bertemu seseorang yang menjalani ujian yang sama dengan saya sepuluh tahun lalu, masukan saya untuknya tidak akan didengarkan namun percayalah kehidupan kita saat ini tergantung dari ikhtiar dan doa kita di masa lalu. Demikian juga kehidupan kita di masa depan adalah hasil dari ikhtiar dan doa kita di masa kini.

Hari ini adalah hari istimewa buat kami sekeluarga terutama saya karena masih diberi usia untuk menikmati dan bersyukur atas impian saya yang telah terwujud dan masih saya miliki hingga kini, yaitu keluarga kecil yang hangat dan padu.

Sebenarnya seperti umumnya keluarga mana pun, kami berempat tidak selalu lancar dalam berkomunikasi namun tekad saya yang kuat untuk mengajak semua berani berbicara terbuka ketika merasa ada ganjalan, alhamdulillah banyak membantu dalam pemecahan masalah kami.

Uniknya, karakter si kakak mirip dengan ayahnya yang tenang, spontan dan menonjol dalam ilmu alam sementara karakter si adik mirip saya, ibunya yang senang merencanakan sesuatu hingga hal-hal detail, pecinta kerapian dan lumayan kuat dalam mengingat. Namun untuk selera makan saya lebih memiliki kemiripan dengan kakak yang lebih mudah diajak mencoba makanan baru dan memilih cheese cake daripada chocolate cake yang manis sementara adiknya lebih mirip dengan ayahnya yang termasuk pemilih untuk urusan makanan dan penggila chocolate cake.

Kami serta-merta akan berhadapan menjadi dua lawan dua dengan sekutu yang tidak selalu sama tergantung kepentingan jika ada pengambilan suara terhadap suatu masalah tapi akhirnya yang menang adalah hasil kesepakatan bersama juga.

Gaya berbicara kakak-adik ini juga bisa dikatakan berlawanan, jika si kakak berhati-hati sewaktu berbicara, baru menyerah bertanya kepada kami setelah berusaha mencari jawaban sendiri dan pendengar yang baik maka si adik lebih apa adanya, langsung ke pokok permasalahan jika bertanya, merasa perlu mengkonfirmasi dulu dan senang bercerita apa saja.

Alhamdulillah, mungkin karena selisih umur mereka cukup jauh yaitu enam tahun si kakak cukup mengemong adiknya sementara si adik begitu memuja kakaknya. Saya pernah mendengar tidak sengaja percakapan si adik dengan sahabat-sahabatnya di sekolah, tanpa merasa jengah dia memuji kakaknya sendiri dan bertekad ingin seperti kakaknya yang selalu berprestasi di sekolahnya. Kebetulan dua sahabatnya termasuk anak-anak yang kalem dan mereka mau mendengarkannya dengan baik.

Si kakak akan ikut membantu saya berbicara dengan adiknya jika melihat saya mulai kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seperti tiada habisnya. Ya, kebetulan keduanya sama persis dengan ayah mereka, jika melihat suatu masalah, mereka akan melihatnya secara holistik. Semua hal yang berhubungan dengan topik yang mereka baru ketahui akan dicari tahu juga. Terkadang berbicara dengan mereka seperti menangkap kodok yang melompat-lompat kesana kemari tapi jika disimak lagi semuanya memang berhubungan.

Syukurlah mereka berdua cukup terbuka dengan saya. Walaupun terkadang mereka tenggelam dengan keasyikan mereka jika sedang bersama tapi saya cukup piawai mengambil alih mereka kembali dan seringkali tanpa mereka sadari. 😈

Berbeda lagi dengan si ayah, karena kapasitas otaknya jauh di atas saya, saya harus bisa mengatasinya dengan memberi pertanyaan cerdas yang membuatnya harus bisa menjelaskan sesuatu dengan lengkap. Mengapa demikian? Karena jika tidak, maka saya dianggap sudah mengerti apa yang ada di fikirannya. Tentu saja itu berpotensi menimbulkan masalah yang tidak perlu, apalagi jika kami sedang terpisah ruang dan waktu.

Kami berdua memang saling membutuhkan, kalau dilihat-lihat jadi seperti saya menuntutnya mengerti apa yang saya rasakan sementara dia menuntut saya mengerti apa yang dia fikirkan. Dan itu semua bisa kami selesaikan dengan bicara to the point, lupakan gaya romantis dengan bahasa yang bersayap jika untuk urusan penting karena itu hanya membuat kami terbang tersesat saja.

Contohnya seperti hari ini, dia melupakan hari khusus kami ini seperti biasanya dan saya tidak merasa penting lagi untuk merajuk. Cukup mengingatkan dan bertanya langsung hadiah apa yang akan dia berikan untuk saya sebagai “hukuman” karena melupakan ini. Dia tertawa lalu menggoda saya dan bisa ditebak akhirnya, keinginan saya makan siang bersama di resto Korea terpenuhi, juga izin menggunakan kartu atmnya sesuai kebutuhan saya untuk perawatan tubuh dan rambut. Cara ini selain menghindari aksi diam yang tidak perlu diantara kami, juga untuk memenangkan semua pihak. Toh, hadiah hukuman itu yang menikmati juga dia sebenarnya. πŸ˜‰

Masih banyak tantangan di depan kami berempat sebagai keluarga kecil tapi saya selalu menekankan kepada anak-anak pentingnya bersyukur kepada Allah swt agar kami selalu merasa cukup dan saling mendukung penuh kasih dengan tetap saling berkomunikasi seberat apa pun situasi dan kondisi kami. Namun yang terpenting dari segala ikhtiar memupuk kekompakan keluarga ini adalah doa, semoga keselamatan kami dilindungi, keutuhan bersama kami dijaga dan kehidupan kami diberkahi Allah swt…. selalu…. aamiin.

 

FB_IMG_1457526479120
Makan siang di Gahyo, restoran Korea
Advertisements

2 thoughts on “Menjaga Impian

    1. Saya baru baca komentar ini, makasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. 😍 Setiap orang adalah tokoh utama di dalam bukunya dan kadang bisa menjadi beberapa buku karena episode hidup yg berbeda. Apakah buku nanti akan dikenang oleh orang-orang yg mencintainya? Tokoh utama yg menentukan itu sendiri sesuai peran yg ditentukan oleh sang Pencipta buku. πŸ˜‰

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s