Selamat Tinggal Maret

Bulan Maret ini cepat sekali berlalu. Entah mungkin saya saja yang merasakan tapi memang beberapa kali saya terheran-heran ketika memasuki akhir pekan karena rasanya seperti baru kemarin berakhir pekan bersama keluarga tiba-tiba esok sudah akhir pekan lagi.

Sakit batuk yang datang dan pergi seenaknya membuat saya tidak produktif di bulan ini. Mungkin itu sebabnya saya merasa waktu berjalan begitu cepat karena saya melakukan rutinitas harian tidak selancar ketika sehat sehingga beberapa pekerjaan menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya.

Hari ini saya memutuskan untuk menghentikan les Kumon si adik setelah tujuh bulan bergabung karena dua bulan belakangan ini dia tidak bersemangat seperti sebelumnya. Pihak Kumon memberi kesempatan untuk kembali tanpa perlu membayar uang muka lagi jika dia dapat mengikuti kelas lagi dalam tiga bulan ke depan. Saya tidak yakin dia akan kembali tetapi saya tetap menerima penawaran tersebut.

Sebenarnya dia tidak ingin berhenti karena menyukai pelajaran hitung-hitungan tapi dia pun mengakui kalau enggan bangun dari tidur siangnya untuk mengikuti kelas yang begitu singkat, hanya sekitar Ā 15 menit lalu kembali pulang membawa tugas yang harus dikerjakan setiap hari hingga pertemuan berikutnya.

Di usianya saat ini, saya perhatikan dia mengikuti les memang lebih memikirkan sisi bermainnya daripada belajarnya sementara di Kumon, mereka yang mengikuti les ya hanya datang untuk belajar di kelas lalu langsung pulang setelah selesai. Berbeda sekali dengan les-les lain dimana beberapa diantaranya dia ikuti sejak dia berusia 3 tahun seperti les piano, menari Bali dan bela diri Tae Kwon Do yang masih bisa bermain, kelas Kumon jadi terlalu serius dan membosankan untuknya.

Dulu dia meminta ikut les Kumon karena beberapa temannya di sekolah mengikuti les tersebut. Mungkin di bayangannya dia bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya itu sewaktu les, ternyata, selain tempat les Kumon teman-temannya berbeda-beda, dengan teman yang tempatnya sama pun waktu kedatangannya berbeda sehingga jarang bertemu.

Lain cerita dengan si kakak yang hanya mengikuti les piano karena sudah mengikuti kelas tambahan di sekolahnya yaitu menari Betawi dan olahraga Basket, sampai saat ini dia tidak ingin menambah les lagi di luar sekolah.

Hari ini juga menjadi momentum penting buat si adik karena mulai malam ini dia tidak diizinkan lagi tidur di kamar kami, orangtuanya. Seharusnya sejak memiliki kamar sendiri, dia sudah harus tidur di kamarnya tersebut. Saya akui ini kesalahan saya karena sejak bayi dia terbiasa harus didekap saya dahulu sebelum tidur sampai tertidur pulas, masalahnya saya terkadang ikut tertidur sehingga tidak memindahkannya hingga pagi tiba. šŸ˜

Di usia tujuh tahunnya ini saya memang masih sering terbawa memperlakukan dia seperti masih balita. Padahal kemampuan bicaranya baik sekali bahkan jauh lebih baik dari saya ketika seusianya. Keegoisan saya yang tidak ingin dia tumbuh besar dengan cepat terkadang bercampur dengan kejailan saya, sehingga di beberapa kesempatan sengaja saya tidak membetulkan ucapannya yang salah untuk beberapa kata agar dia tetap menjadi balita yang menggemaskan saya.

Biasanya ketika saya di rumah menantinya dari sekolah, saya akan tersenyum sendiri mengingat-ngingat beberapa kata itu, antara lain saat dia meminta tolong saya untuk mengambil mainannya yang jatuh di dekat saya berdiri, dia mengucapkan “mama tolong kumutin“. Kumutin itu maksudnya pungutin. šŸ˜œ Kejadian lainnya adalah sewaktu dia menjelaskan mengapa dia meminta saya mengangkat kaki saya dari kakinya ketika mendekapnya jelang tidur, dia mengatakan “….abis kaki mama bebenani“. Bebenani memang mirip-mirip ya dik, dengan membebani. šŸ˜ Satu lagi jika dia melihat saya di depan cermin agak lama, dia biasanya akan bertanya, “mama dandaan mau ke mana?”. Kenapa juga dandan jadi dandaan, sayang? šŸ˜…

Bulan ini memang seperti berlalu dengan sembunyi-sembunyi, entah apa yang sedang dirahasiakannya. šŸ˜‰ Saya berharap bulan April besok tidak sepanas dan secepat bulan ini. Selamat tinggal bulan Maret yang misterius, sampai bertemu lagi. šŸ˜Š

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Tinggal Maret

  1. Saya malah hampir dua minggu ini sakit batuk dan radang tenggorokan, suara serak…alhamdulillah sekarang sudah mendingan šŸ™‚
    Nggak terasa ya wortel sudah remaja, semoga adik dan kakak menjadi anak yg qurrata’ayun. amin

    Like

    1. Semoga sudah sembuh ya mbak dan selalu dalam keadaan sehat. Iya, waktu cepat berlalu dan tiba-tiba kita tersadar banyak sekali hal yg belum kita lakukan dan perbaiki. šŸ˜Š

      Aamiin untuk doanya mbak Yulia. šŸ˜‡

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s