Jangan Menulis!

Pernahkah anda membaca tulisan lama anda dan merasa tidak mengenal diri anda sendiri karena anda sudah tidak berada di kondisi ketika bercerita? Saya pernah dan bahkan sering.

Beberapa kali saya merasa malu, konyol dan bahkan asing terhadap keputusan saya dan apa yg saya lakukan dulu. Kadang saya tertawa, geleng-geleng kepala dan menggumam “astaga” atau pernah juga terharu hingga meneteskan airmata karena teringat kejadian yg saya ceritakan di tulisan dengan versi lebih detail di kepala saya.

Biasanya setelah itu, saya akan menghapus tulisan-tulisan lama tersebut atau saya masukan ke draft jika masih merasa sayang untuk dibuang tapi juga tidak tega mau melihatnya lagi karena malu-maluin aja. 😳

Selain jurnal, saya juga sering memfiksikan diri saya. Maksudnya membuat fiksi dengan mengambil pengalaman diri sendiri. Setelah berlembar-lembar menulis karena sedang mood dan senggang, akhirnya draft tersebut saya buang karena beberapa hari kemudian ketika saya baca, saya jadi kesal sendiri karena isinya jelek bukan main. 😎

Kali ini saya mau menceritakan bagaimana saya menemukan jalan buntu karena tidak bisa menghapus atau membuang cerita yg saya tidak sukai karena cerita ini adalah cerita yg sedang saya jalani.

Jika sedang menulis sebuah cerita, saya dengan mudah menghentikannya dengan tekad “jangan menulis!” sewaktu sedang merasa jatuh, maka di kehidupan nyata, saya tidak bisa menghentikannya dengan tekad “jangan hidup!”.

Ya, bagaimana pun saya harus tetap menjalani hidup meskipun saya merasa gagal atau benci terhadap apa yg sudah saya lakukan.

Seperti yg terjadi hari ini, saya sungguh menyesal dengan apa yg saya lakukan namun saya tidak bisa menghapus cerita saya hanya dengan menekan tombol delete.

Saya ingin berhenti hidup seperti saya ingin berhenti menulis tapi tentu saja tidak bisa karena mau ditulis atau tidak atau mau hidup atau tidak, cerita saya tetap berjalan hingga dihentikan oleh sang Pemilik Kehidupan.

Entahlah, mungkin ini krisis paruh baya tapi saya memang sedang berada di kondisi yg membuat saya sering berfikir saya tidak cukup memberikan semua kepada suami dan anak-anak saya. Selalu merasa kurang dan bahkan gagal mengabdi kepada mereka.

Ditambah dengan fisik saya yg tidak setangguh dulu karena cepat merasa lelah, sering sakit kepala jika melihat cahaya matahari, malas olahraga dan enggan keluar rumah untuk menghindari macet, maka saya semakin tenggelam dengan rasa bersalah saya.

Saya sengaja menuliskan ini karena saya ingin membacanya lagi berapa bulan ke depan. Berharap ketika membaca ini nanti, saya tertawa dan berbisik sendiri “Tuh kan kalau lagi merasa jatuh, jangan menulis!”

Doa saya hari ini :

Ya Allah, beri saya kesempatan lagi, beri saya kekuatan untuk mewujudkan tekad saya. Hanya Engkau lah yg mampu membolak-balik hati kami dan jalan hidup kami, maka hanya kepada Engkau lah kami memohon pengampunan, keberkahan hidup, perlindungan, rezeki, kasih sayang dan kelembutan…. Kabulkanlah doa ini ya Allah. πŸ˜‡

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s