Semalam di Yogya

Kesibukan suami yang menyita beberapa akhir pekan yang seharusnya adalah waktu bersama keluarga, membuatnya berinisiatif mengajak kami sekeluarga ke luar kota di akhir pekan.

Saya yang terbiasa merencanakan sesuatu jauh-jauh hari sebelumnya jika kami sekeluarga ingin bepergian tidak begitu antusias menjawabnya karena bungsu kami masih ke sekolah di hari Sabtu. Selain itu dia masih harus latihan menari di hari Jum’at sore untuk persiapan ujian. Ditambah sulung kami yang juga dijadwalkan mengikuti olimpiade sains di hari Sabtu juga dari sekolahnya.

Namun suami saya bersikeras mengajak kami pergi. Dia mengubah rencana bepergian dari dua malam menjadi semalam saja. Dua hari jelang rencana pergi, dia sudah memesan tiket untuk kami. Saya masih santai saja menanggapinya saat itu karena saya pikir kalaupun kami jadi pergi hanya semalam ini sehingga berkemas menyiapkan isi koper tidak terlalu memakan waktu.

Di hari yang sama Sulung kami diberitahu sekolahnya kalau dia dikutkan olimpiade matematika di minggu berikutnya dan batal dikutkan olimpiade sains.

Sehari sebelum rencana, Bungsu mendapat edaran pemberitahuan kalau sekolahnya diliburkan di hari Sabtu, hari rencana keberangkatan kami karena ada rapat pengawas sekolah dan guru tentang penerapan kurikulum 2013.

Jalan seperti sengaja dibuka untuk kami khususnya anak-anak yang memang ingin sekali rencana bepergian itu jadi. Kami pun memesan penginapan di Yogya, kota yang kami akan kunjungi. Saya yang memilih di mana menginap karena tertarik dengan foto-foto teman dan istrinya di Facebook yang pernah menginap di “Ndalem Gamelan”. Sewaktu memesan itu, tidak lupa kami memberi catatan bahwa kami sekeluarga akan check in di malam hari karena akan langsung bepergian begitu dijemput di bandara Adisucipto oleh sopir mobil sewaan.

Kami berangkat Sabtu pagi dengan Batik Air menempuh perjalanan 1 jam 5 menit. Setiba di Yogya kami langsung ke candi Borobudur, setelah menikmati brunch di restoran “Gudeg Yu Jum”.

picsart_11-12-09-35-36

Cuaca cerah hari itu dan wisatawan yang datang banyak sekali karena di akhir pekan tapi beruntung kami bisa mengabadikan momen di sana berkali-kali tanpa memperlihatkan keramaian itu.

picsart_11-16-09-00-49

Setelah puas mengitari candi di setiap tingkatnya dan melihat-lihat reliefnya kami pun bersiap kembali. Ternyata mobil terbuka buat ke parkiran hanya disediakan untuk ke candi bukan sebaliknya, jadi kami harus jalan kaki atau naik delman untuk kembali. Kami akhirnya memilih delman karena tertarik dengan paketnya yang akan melewati perkampungan di sekitar candi dan mampir di sebuah warung kopi sambil menikmati makan siang sebelum ke parkiran.

picsart_11-16-09-10-46

Di warung kopi, anak-anak sempat belajar gamelan diajarin oleh pak Koeswardi dari grup gamelan “Jampi Sayah”, Muntilan yang menurut pengakuannya adalah pencipta lagu campursari “Cucakrowo” yang terkenal itu. Di luar dugaan, ayah mereka sudah merasa lapar lagi lalu memesan menu patin goreng dan sayur lodeh sementara kami bertiga hanya menikmati jajanan dan wedang yang disediakan gratis di situ karena masih kenyang.

picsart_11-17-02-29-11

Tur kami berlanjut ke candi Prambanan. Perjalanan menuju ke sana melewati candi Mendut dan candi Pawon. Di candi Prambanan juga tak kalah ramai oleh wisatawan, kebetulan ada rombongan sekolah juga yg berkunjung ke sana. Meskipun tidak semua candi kami masuki tapi kami sempat mengabadikan patung dewa Siwa di candi utama dan melihat-lihat candi yang di depannya. Kunjungan kami tidak begitu lama di sana karena kami ingin menikmati sunset di istana Ratu Boko.

picsart_11-16-09-23-13

Sayang sekali keinginan kami menikmati sunset di Ratu Boko tidak terpenuhi karena mendung sore itu. Di sini ramainya luar biasa karena ada restorannya juga. Parkiran penuh sekali dan memerlukan waktu lebih dari 10 menit ketika menunggu dijemput sopir karena panjangnya antrian mobil yang ke sana.

Kami tidak makan di restoran Ratu Boko karena ingin makan malam di restoran “Bakmi Jawa Mbah Gito” yang direkomendasikan oleh sopir. Selain karena kelaparan, menunya juga enak di sini sehingga buat kami, menunggu pesanan selama setengah jam tidak percuma karena bakmi rebus spesial, bakmi goreng spesial dan nasi Capcay-nya pas sekali dengan lidah kami.

Kami check in di penginapan sekitar jam 8 malam. Penginapannya persis seperti yang saya bayangkan. Menginap di sana seperti menginap di rumah keluarga. Pengurusnya sepasang suami-istri yang ramah dan rajin. Kami mendapat kamar yg paviliun yang terletak di belakang. Dari kamar kami bisa menikmati taman yang hijau dan terhindar dari keramaian suara lalu-lalang kendaraan di jalan. Malam itu kami disajikan kopi teh lalu keesokan harinya dibuatkan sarapan sesuai keinginan kami yaitu nasi goreng, bubur ayam dan jus mangga. Selama menunggu sarapan disiapkan, kami menikmati kopi teh di teras depan hotel. Syukurlah, pilihan saya menyenangkan suami dan anak-anak juga karena di penginapan yang serasa berada di rumah itu, suami dan saya bisa memanggil tukang pijat tradisional dan anak-anak asyik main gamelan memenuhi penasaran mereka yang baru belajar gamelan.

Hari kedua itu, kami mengunjungi keraton sultan Yogyakarta dan mendapat pemandu tur yang hafal sekali sejarah keraton tersebut. Kami juga sempat ke toko hiasan dinding batik di perkampungan abdi dalem di sekitar keraton dan anak-anak mendapat penjelasan singkat tentang proses pembuatan batik di sana.

Dari keraton, kami makan siang di restoran “Ayam goreng Co-De” di Jagalan, salah satu kuliner khas Yogya yang terkenal sampai Jakarta. Anak-anak suka sekali meskipun sempat terlihat kaget melihat ruang makannya yang sempit dan makin sempit karena pelanggan yang makan di sana banyak. Kami bahkan duduk terpisah karena kursi kosong yang ada berjauhan. Melihat mereka lahap, saya memesan beberapa ekor untuk dibawa pulang.

picsart_11-17-08-28-24

Selanjutnya, kami ke museum 3 dimensi “De Mata”. Di sini kami berempat seperti anak-anak yang mendapat mainan baru, bapak, ibu dan anak-anak sama saja! πŸ˜‚ Sekeluarga memang “banci kamera, sehingga semua merasa senang dan geli karena tertarik berpose menyesuaikan dengan latar belakang gambar tiga dimensi yang dipilih masing-masing.😁

Dari museum De Mata, kami mampir ke toko oleh-oleh makanan Bakpia 25 sebelum menuju bandara Adisucipto untuk kembali ke Jakarta.

Sewaktu menunggu pesawat di ruang tunggu bandara, saya mengucapkan terimakasih ke suami untuk akhir pekannya yang menyenangkan sambil memeluk pinggangnya karena dia berdiri di samping saya yang mendapat tempat duduk. Dia tersenyum dan meminta saya belajar untuk siap berangkat setiap saat diajak pergi olehnya dan tidak harus merencanakan sesuatu dengan sempurna. Mengalir saja, kalau tidak jadi pergi dan tiket hangus ya sudah, rezeki pasti datang lagi katanya. Saya tertawa sambil menyembunyikan kepala saya dari tatapannya karena malu. Anak-anak menoleh ke arah kami berdua dan tersenyum lalu kembali ke keasyikan masing-masing membaca buku dan mendengarkan lagu dari gawainya.

Ya, saya bisa merasakan suami dan anak-anak saya sudah mulai “bosan” dengan corat-coret perencanaan saya, jika kami mau bepergian atau memiliki sesuatu selama ini. Mungkin ini momen yang tepat untuk mengubah kebiasaan itu karena kami sudah memasuki episode kebersamaan kami lebih penting daripada kesempurnaan penunjangnya karena waktu kami untuk bersama tidak selentur dulu.

Kini saya harus memilih beberapa foto yang bagus untuk dibagi sebagai pelengkap tulisan ini dari sekitar 400-500 foto yang ada. Apa sih yang gak buat pengunjung blog ini? πŸ˜‰ Selamat berakhir pekan…. Wooogh sudah mau akhir pekan lagi ya! 😎😍

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s