Penyegaran ke Bandung

Batuk saya yang tak kunjung sembuh dan kulit merah-merah si Bungsu akibat alergi yang belum hilang juga, membuat kami berdua seperti tahanan di dalam rumah. Kami enggan keluar rumah karena batuk saya cukup mengganggu jika sudah terpancing keluar dan rasa gatal yang dirasakan si Bungsu jika berkeringat juga membuatnya tidak nyaman jika tidak berada di tempat yang sejuk.

Hari Jum’at lalu, suami mendapat tugas kantor untuk mengikuti pelatihan di Bandung. Pelatihannya diadakan di hari Senin namun ada meeting tidak resmi juga di lapangan golf pada hari Minggunya diantara para peserta. Saya tadinya menolak ketika diajak apalagi hari Senin, si Bungsu tidak libur. Namun setelah bolak-balik diminta, saya luluh juga dan berfikir sekalian saja kami yang staminanya kurang fit ini ke daerah pegunungan dan pemandian air panas untuk penyegaran. Siapa tahu pergantian suasana dan suhu udara yang lebih sejuk membuat kesehatan kami membaik.

Sabtu siang kami bertiga berangkat ke Bandung tanpa si Sulung karena tidak ingin membuatnya izin tidak sekolah di hari Senin. Kami tiba sore hari dan menghabiskan sore yang cerah di resto “Padma”. Tadinya kami hanya ingin minum teh ditemani makanan ringan tapi ternyata suami sudah lapar lagi setelah menyopir sekitar 2 jam dari Jakarta ke Bandung. Sepiring nasi ditemani buntut goreng cabe hijau pun kami habiskan bertiga. ๐Ÿ˜€

Setelah check in di hotel dan mengatur baju-baju yg akan dipakai selama di sana, kami jalan-jalan keliling kota Bandung sebentar sebelum makan malam di “Holycow”.

Minggu pagi setelah sarapan, saya googling penyewaan mobil berikut sopir untuk mengantar saya dan Bungsu ke beberapa tempat wisata sementara suami berolahraga bersama para koleganya. Syukur lah kami dapat mobil sewaan juga sekitar jam 12 siang. Sopirnya sangat mengetahui jalan, banyak berbagi pengetahuan seputar kota Bandung dan sopan. Namanya pak Arya.

Sesuai anjuran pak Arya kami ke “Upside Down World” dulu agar tidak terlewat jam buka tempat unik tersebut. Bungsu senang sekali karena terpenuhi juga rasa penasarannya selama beberapa minggu ini setelah tidak kesampaian ke tempat wisata ini sewaktu kami ke Yogya lalu. Harga tiket masuk di sini untuk dewasa Rp 100,000,- sementara untuk anak-anak Rp 50,000,-. Ada 15 ruangan yang perabotannya diatur terbalik sedemikian rupa menyerupai studio foto. Kami sempat berfoto di semua ruangan tersebut. ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜

picsart_01-09-10-27-35

Dari “Upside Down World”, kami naik ke gunung Tangkuban Perahu. Di sana, pengunjungnya luar biasa banyak karena hari Minggu. Plat mobil yg parkir banyak sekali dari luar kota. Setelah makan jagung dan menikmati keindahan alam baik dari sisi kawah maupun dari kebun teh kami kembali ke mobil.

Lalu pak Arya mengantar kami ke Ciater, pemandian dari sumber air panas pegunungan. Saya memilih ke “Ciater Spa dan Resort” karena berharap pengunjung di sana tidak terlalu banyak. Syukur lah memang demikian tapi sayangnya di tempat wisata ini perawatannya kurang baik. Lokernya rusak semua, kolam untuk berendamnya tidak rapi pemasangan keramiknya karena banyak yg tidak sama, kursi plastik di bawah kanopi banyak yang sudah tidak layak penampilannya dan yang paling menyedihkan tempat bilas, kamar ganti dan toiletnya bau dan kotor sekali. Saya mengajak Bungsu bilas dan mandi di hotel saja karena sudah deg-degan khawatir melihat kebersihan tempat tersebut.

Air di sana benar-benar panas jadi tidak boleh langsung masuk seluruh badan ke kolam. Tubuh memerlukan adaptasi agar tidak kaget. Bungsu bukannya sembuh malah kulitnya semakin banyak merah-merahnya seelah berendam di sana. Belakangan kami baru tahu dari seorang dokter spesialis alergi dan imunologi, dokter keempat yg kami kunjungi untuk memeriksa Bungsu, ternyata penderita alergi sebaiknya menghindari air yg mengandung sulfur karena kulit otomatis akan bereaksi keras jika terkena. Subahanallah…. Niatnya mau berobat, eh kulitnya malah makin reaktif. ๐Ÿ˜ข

Selanjutnya kami kembali ke Bandung. Dalam perjalanan pulang kami sempat membeli buah Apukat dan Nanas madu di pinggir jalan lalu di kota dan mampir ke “Batagor Kingsley”. Sesampai di hotel, kami berdua langsung berendam dan menggosok tubuh sebersih-bersihnya. Lalu suami yang sudah pulang juga dari golf ย mengajak kami makan malam yang terlambat ke “Nasi Kalong”.

picsart_01-09-11-15-26

Hari Senin kami berdua tidak kemana-mana. Setelah sarapan, kami hanya bermalas-malasan membaca buku di kamar. Sewa kamar diperpanjang karena ternyata acara pelatihan yang dikuti suami baru selesai sore bukan siang seperti informasi yang kami terima sebelumnya.

Setelah pelatihan selesai, suami sengaja menunggu malam sekalian untuk menghindari macet di jalan tol dan kami sempat makan malam di “Bebek Kaleyo” sebelum kembali ke Jakarta di hari itu juga.

Pagi tadi bapak-anak masih terkantuk-kantuk ketika mau mandi bersiap ke kantor dan sekolah. Kasihan juga melihat mereka tapi saya hanya bisa menyemangati mereka segera berangkat agar tidak terlambat. ๐Ÿ˜Š

Alhamdulillah, masih bisa bersama meski di akhir pekan pun suami mendapat tugas kantor. ๐Ÿ˜‡

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s