Akhir Pekan yang Padat di Belitung

Sepulang ayahnya dari tugas luar negeri berturut-turut, dua gadis kami menuntut liburan karena kehilangan 4 akhir pekan bersama ayah mereka yang memang merupakan waktu berkualitas kami berempat. Well, ibunya juga menuntut sih. 😅

Akhirnya 2 kali dinas itu disanggupi ayah mereka akan diganti dengan 2 kali liburan bersama ke luar kota. Belitung adalah tujuan liburan pertama kami setelah mengeliminasi pilihan Sumatera barat.

Berhubung suami enggan mengajukan cuti karena pekerjaan kantornya menumpuk setelah ditinggal dinas cukup lama, maka kami hanya punya akhir pekan untuk memuaskan hasrat liburan bersama Mr. Busy ini. 😏

Saya mulai berburu informasi tur 2D1N ke Belitung di internet dan akhirnya menemukan Caca Travel. Harga paketnya lumayan mahal tapi karena ayah dan anak-anak gadisnya sudah tidak sabar ingin bepergian bersama, saya pun akhirnya menyetujui harga paket yang sudah diatur sesuai tujuan wisata yang kami inginkan. 😉

Kami berangkat ke Belitung, hari Sabtu tgl 11 Maret menggunakan Sriwijaya. Setiba di Tanjung Pandan, kami dijemput oleh pemandu wisata yg sekaligus adalah sopir kami selama di sana. Kami langsung diajak menikmati sarapan mie Belitung yg tersohor itu ditemani es Jeruk Kunci. Mienya enak dan berbeda dengan mie-mie kuah yg selama ini pernah kami makan karena menggunakan kaldu udang. Sementara jeruknya berasal dari sirup jeruk Kunci yg merupakan minuman khas sana, semakin banyak sirupnya semakin manis minumannya, jadi banyak sirupnya bisa disesuaikan selera kita kalau membuat sendiri.

Dari cafe “Wan Bie”, kami ke hotel sebentar untuk check in dan menyimpan barang setelah itu langsung membawa perlengkapan renang dan main pasir menuju pelabuhan Tanjung Kalayang siap untuk “island hopping” atau melompat dari satu pulau ke pulau lain dengan perahu. 😊

Setiba di Tanjung Kalayang, sudah ada perahu yang menunggu kami. Tujuan pertama kami adalah pulau Burung Garuda yaitu pulau dimana ada batu besar menyerupai kepala burung Garuda. Lalu kami ke pulau Lengkuas, pulau yang ada mercusuarnya. Dari pemandu kami mendapat cerita mengapa pulau ini bernama Lengkuas. Menurutnya nama itu berasal dari lidah penduduk lokal yang tidak terbiasa menyebut mercusuar dalam bahasa Inggris yaitu “Lighthouse”. Sehingga kata itu lama-lama berubah menjadi Lengkuas, entah itu benar atau tidak tapi cukup membuat kami terhibur karena bungsu sudah mulai tidak sabar ingin bermain pasir. 😜😁

Sebelum ke pulau Kepayang, kami sempat snorkeling di sekitar pulau Lengkuas. Namun karena cuaca mendung, pemandangan laut indah yang kami intip dari permukaannya itu tidak sejelas jika matahari bersinar cerah. Bungsu senang sekali karena ini pengalaman snorkeling pertamanya.

Di pulau Kapayang kami membersihkan diri dan berganti baju untuk makan siang tapi “duo dara air” kami hanya membersihkan badan saja dari pasir dan lengketnya air laut. Mereka tetap menggunakan baju renang yang sudah mengering karena ingin bermain pasir selama menunggu makan siang disiapkan. Makan siangnya berupa makanan laut segar yang baru dimasak. Mungkin selain karena menunya memang menarik, kami juga kelaparan sehingga makanan yg dihidangkan di meja cepat sekali ludes siang itu. 😅

Setelah makan siang dan puas bermain pasir, sebenarnya mereka belum puas tapi kami membujuk mereka untuk melihat pulau Pasir, pulau yg hanya muncul ketika laut sedang surut. Di sana banyak sekali kami temukan bintang laut.

Dari pulau Pasir kami menuju pulau Batu berlayar. Di pulau ini ramai sekali sehingga kesempatan berfoto di batu yg menyerupai layar kapal ini sangat langka. Namun kami dapat juga berfoto di sana. 😎

Kami kembali ke Tanjung Kalayang lalu dari sana kami melanjutkan tur dengan mobil menuju pantai Tanjung Tinggi. Pantai ini muncul di film “Laskar Pelangi” karena memang lokasi dari cerita di bukunya adalah di sana.

Untuk diketahui, masyarakat pulau Belitung sangat bangga dengan Andrea Hirata, penulis buku “Laskar Pelangi”. Sejak buku yg menceritakan kisah persahabatan anak-anak di pulau Belitung itu menjadi “best seller” hingga dibuatkan filmnya, turis banyak berdatangan ke Belitung karena penasaran dengan keindahan alam dan budaya masyarakat setempat yang diceritakan dalam buku dan ditunjukan oleh film “Laskar Pelangi”.

Pantainya memang luar biasa indah! 😍Airnya hijau kebiruan, pasirnya putih dan yang paling unik adalah batu-batu berukuran raksasa di pantai tersebut. Ada yg seperti diatur menjadi batu yang jatuh terselip tidak sengaja diantara dua batu lalu terjepit kokoh. Kami sempat berfoto di bawah batu tersebut yang terlihat seperti kami berada di dalam gua dengan atap batu yang terjepit itu. 😊 Setelah menjelajahi batu-batu raksasa itu, kami duduk-duduk menikmati semilir angin di tepi pantai. Selagi suami asyik menikmati kopi pesanannya dan duo dara menggambar di pasir, saya sempat terlelap sebentar. Sungguh tidur singkat yang berkualitas karena setelah itu badan saya segar sekali. ☺

Dari pantai Tanjung Tinggi kami kembali ke kota. Sembari menunggu waktu makan malam, kami diajak ke warung kopi “Kong Jie”. Belitung memang terkenal dengan budaya masyarakatnya yang senang minum kopi di warung-warung kopi lokal yang banyak ditemukan di sepanjang jalan. Jangan pernah bermimpi “Starbuck” bisa masuk sini karena bukan hanya kopi yang membuat mereka betah berlama-lam di warung-warung kopi tapi suasana hangat antar pengunjungnya juga keramahan penjualnya yang rasanya tidak mungkin ditemukan di kafe-kafe lisensi asing. Saya bukan peminum kopi jadi saya cukup menikmati coklat hangat selagi ayah dan dua gadisnya mencoba kopi hangat dan es kopi pakai susu sore itu

Malamnya kami makan malam di “Dapoer Belitung”. Menunya juga makanan laut segar dan saya benar-benar menyukai sop ikannya. Lupa nama ikannya apa tapi sepertinya hanya ada di Belitung karena saya baru pertama kali mendengar namanya. ☺

Kembali ke hotel, kami langsung mandi dan menyiapkan baju yang akan dipakai besok, lalu merapikan koper agar bisa langsung ke bandara setelah menjalani sisa tur di hari kedua.

Saya dan suami memeriksa kondisi duo dara di kamar mereka sebelum tidur. Bapak-anak bertiga sempat-sempatnya main gim sebelum saya ingatkan tur besok dimulai jam 7 pagi karena perjalanan ke Belitung timur akan ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Setelah mencium mereka satu-persatu kami kembali ke kamar dan langsung lepas landas ke alam mimpi.

Hari Minggu pagi setelah sarapan di hotel, kami langsung diantar menuju Belitung timur. Tempat menarik pertama yang kami kunjungi adalah tempat pengambilan gambar SD di film “Laskar Pelangi” yaitu replika SD Muhammadyah, Gantung.

Lalu ke rumah pak Ahok, kami ke galeri “Kampoeng Ahok” di depan rumah pak Ahok dulu yang berisi foto-foto beliau, setelah itu kami ke rumahnya yang cukup besar dan terbuka. Di dalam pekarangan rumahnya ada kandang berisi beberapa keledai yang memang sengaja dipelihara juga ada toko souvenir. Duo dara tertarik sekali melihat keledai-keledai itu dari dekat. Di toko souvenir kami bisa melihat peralatan untuk membuat batik cetak dengan motif daun Simpur, tanaman khas sana. Kalau di hari biasa menurut penjaga tokonya kami bisa melihat proses pembuatan batik cetak tapi karena hari Minggu libur maka hanya kasir saja yang masuk kerja hari itu. Hasil cetak batiknya bisa kita lihat dan dijual juga di sana.

Kami juga melihat koleksi tanaman anggrek yang dirawat oleh ibundanya pak Ahok. Setelah puas berfoto-foto di sana, kami menikmati pisang goreng dan minuman hangat di samping galeri “Kampoeng Ahok”. Kebetulan pisang gorengnya baru diangkat dari panci penggorengan sehingga kami benar-benar merasakan suasana kampung yang tenang, santai, hangat dan memanjakan perut di warung kopi tersebut.

Tur dilanjutkan menuju “Rumah Keong”. Tempat ini sebenarnya adalah tempat untuk meneropong gerhana matahari total. Kebetulan pada tgl 9 Maret 2016 tahun lalu, Belitung termasuk kota yang mengalami gerhana matahari total sehingga pemda setempat menyediakan tempat khusus itu bagi siapa saja dari seluruh penjuru dunia yang ingin melihat fenomen alam tersebut. Dinding dan atapnya terbuat dari rotan dan berbentuk melengkung seperti rumah keong, unik sekali. Di sekitar situ terdapat danau yang cocok dimanfaatkan untuk tamasya air.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju museum “Kata”, museum milik penulis Andrea Hirata. Ketika masuk museum oleh petugas yang memeriksa tiket, kami masing-masing diberi satu buku karya Andrea Hirata. Kami disuruh memilih dari 2 buku yang ada, satu berjudul “Kisah Ikal dan Lintang” dan satunya “Kisah Ikal dan Aling”. Penerimaan kedatangan pengunjung yang keren! 👍

Museumnya menarik karena didesain gaya art deco yang warna-warni sementara di dalamnya bergaya kuno terutama warung “Kupi Kuli” di ruangan paling belakang bangunan museum, ketika di sana serasa berada di dapur rumah nenek di desa. 😍

Suami dan dua dara menyempatkan minum kopi asli Belitung lagi di warung itu sebelum pulang karena kunjungan ke Manggar, kota seribu warung kopi kami batalkan mengingat waktu yang tidak cukup.

Kami makan siang di “Raja Seafood Belitung”. Di luar menu makanan laut yang disediakan untuk kami, suami memesan Mie Belitung Atep karena masih penasaran. Senang sekali melihatnya makan bertiga satu piring bersama anak-anak gadisnya dengan lahap. 😁

Kami membeli oleh-oleh di toko oleh-oleh di depan restoran tersebut sebelum ke bandara. Siang itu kami kembali ke Jakarta dengan penerbangan Sriwijaya juga. Sungguh tur dua hari yang cukup padat tapi kami senang karena keinginan mengganti waktu berkualitas bersama kami sudah terpenuhi. 😍

Dokumentasi foto tersedia di : instagram.com/lintangcr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s