Akhirnya Melihat Bromo di Waktu Matahari Terbit

Rencana ke Bromo di akhir pekan berkali-kali tertunda karena beberapa acara golf suami dengan kolega di kantornya dan kalendar akademik anak-anak yang sepertinya saling berkejaran untuk ulangan harian dan ujian tengah semester.

Saya sudah berhenti menghubungi travel yang menyediakan tur ke Bromo, ketika tiba-tiba suami memberitahu bahwa ada acara organisasi istri di kantornya ke Bromo. Tentu saja saya tidak berminat karena acara organisasi biasanya tidak membolehkan kami membawa anak-anak.

Beberapa hari kemudian saya diberitahu lebih lengkap bahwa acara ke Bromo itu diadakan setelah kami para istri menyelesaikan tugas menjadi panitya di suatu acara pernikahan di Surabaya. Ini menjadi lebih sulit menolaknya karena acara ke Bromo dan ditunjuk menjadi panitya acara itu merupakan satu kesatuan. Mau tidak mau saya harus ikut. ๐Ÿ˜Ÿ

Setelah menjelaskan ke dua gadis kami bahwa mereka tidak bisa ikut kami ke Bromo meskipun kami tetap mengajak mereka ke Surabaya juga, saya jadi kecewa karena suami juga menambahkan bahwa dia juga tidak ikut karena harus memdampingi atasannya setelah acara resepsi, bermain golf keesokan harinya. ๐Ÿ˜ž

Saya mulai memberitahu anak-anak bahwa ketika ayahnya main golf dan ibunya ke Bromo, mereka harus selalu di dalam kamar hotel dan bila lapar tinggal pesan ke layanan kamar. Mereka juga saya pesan agar tidak sembarangan membuka pintu kamar dan hanya boleh keluar jika ada keadaan darurat seperti kebakaran atau diminta keluar dari kamar oleh polisi.

Selain itu saya juga harus menyiapkan berbagai mainan dan buku bacaan untuk berjaga-jaga kalau mereka bosan menonton TV dan main gim di ponsel mereka. Bungsu sempat merajuk dan meminta izin untuk berenang tapi karena saya belum mempercayai kemampuan sulung menjaga adiknya selama di kolam renang, maka saya tidak memberi izin. ๐Ÿ˜

Sehari jelang berangkat ke Surabaya, suami meminta saya juga membawa perlengkapan anak-anak untuk naik gunung. Mengantisipasi jika saya boleh membawa anak-anak ikut acara organisasi ke Bromo itu.

Kami tiba di Surabaya pada hari Sabtu pagi. Sewaktu bersiap didandani untuk menjadi penerima tamu, saya mendapat khabar bahwa saya boleh membawa anak-anak kami. Mereka langsung saya minta tidur siang agar stamina badan mereka prima menghadiri acara resepsi pernikahan dan ikut ke Bromo setelah acara selesai. Namun kegirangam mereka karena akan diajak malah membuat mereka tidak bisa tidur siang. ๐Ÿ˜ฅ

Malamnya saya dan suami menjadi penerima tamu yang berdiri sepanjang acara resepsi pernikahan sementara anak-anak asyik menyibukan diri di dalam gedung resepsi agar tidak mengganggu orangtuanya yang sedang bertugas di depan. Lalu Minggu dini hari jam 00:00 saya dan anak-anak diantar suami berkumpul di lobi hotel bersama peserta lain untuk bersiap tur menuju Bromo.

Kami naik mini bus ke Leces, Probolinggo di lereng gunung Bromo sekitar 3 jam. Setiba di sana kami dipersilahkan menunggu jeep yang akan mengantar kami ke atas gunung Pananjakan untuk menyaksikan keindahan matahari terbit yang menyinari gunung Tengger, gunung Bromo dan gunung-gunung lain di sekitarnya.

Sekitar jam 03:30 pagi kami naik jeep ke atas lalu berjalan kaki menuju titik yang bagus untuk menyaksikan fajar. Namun karena duo dara masih mengantuk dan jalanan menuju puncak gelap, saya menyewa kuda untuk membawa mereka ke atas. Dari tempat pemberhentian kuda, kami masih naik undakan lagi menuju ke sana.

Kami tiba di sana masih gelap namun perlahan-lahan langit mulai kemerahan dan memperjelas bentuk gunung-gunung yang terlihat misterius, anggun diselimuti awan tebal.

Kami bertiga cukup lama menikmati keindahan alam tersebut dan masih duduk di sana sebelum diajak turun oleh pimpinan rombongan.

Dari Pananjakan kami menuju “Pasir Berbisik” yaitu lokasi pengambilan gambar dari film yg berjudul sama tapi karena ramai oleh pengunjung, kami hanya melihat puluhan jeep yang parkir di sana.

Kemudian kami melanjutkan tur ke bukit “Teletubbies”. Sekali lagi kami kurang beruntung karena bukit-bukit itu diselimuti kabut cukup tebal sehingga hamparan hijau yang seharusnya seperti hamparan di film anak-anak “Teletubbies” tidak terlihat.

Seharusnya tur masih akan ke kawah Bromo tapi dibatalkan karena kondisi beberapa peserta yang tidak fit. Saya tidak ada beban sewaktu dibatalkan karena anak-anak juga terlihat kurang menikmati perjalanan dengan menggunakan jeep. Kami merasa seperti melayang, terbanting bahkan terkocok selama menumpang jeep sehingga balik ke Surabaya itu menjadi keputusan yang terbaik. ๐Ÿ‘

Paling tidak rasa penasaran kami melihat gunung Tengger dengan anak-anak gunungnya yang salah satunya adalah gunung Bromo, sudah terobati. ๐Ÿ˜

Setiba di hotel kami bertiga langsung membersihkan diri dan beristirahat. Sore harinya suami pun tiba kelelahan dari bermain golf sehingga kami berempat menghabiskan malam di kamar hotel saja. ๐Ÿ˜„

Keesokan harinya, sebelum kami kembali ke Jakarta dengan penerbangan siang, kami menyempatkan diri menyeberangi jembatan Suramadu menuju pulau Madura untuk membeli makanan yang terkenal di sana yaitu “Bebek Sinjay”. Syukur lah kami tidak perlu mengantri karena datang pagi-pagi. ๐Ÿ˜€

Kemudian dalam perjalanan ke bandara “Juanda” kami mampir sebentar untuk menikmati es krim “Zangrandi” dan membeli oleh-oleh di toko souvenir “Mirota”. ๐Ÿ˜

Liburan akhir pekan yang panjang karena hari buruh ini cukup melelahkan tapi buat kami tetap menyenangkan juga. Alhamdulillah… ๐Ÿ˜‡

 

Dokumentasi foto tersedia di : instagram.com/lintangcr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s